Konsep dan Relasi Person dan Kehendak Bebas
Ada aneka pandangan terhadap person ini. Dalam tataran sejarah perkembangan filsafat terutama dalam perspektif metafisik person diartikan sebagai kesatuan substansial dari tubuh dan jiwa, sebagai dimensi psiko-fisik, sebagai dimensi ontologisnya. Dalam hal ini tubuh dilihat sebagai ekspresi derajad kemanusiaan, berhargam dan bernilai, tidak pernah menjadi atau direduksi ke dalam nilai pasar yang dapat diperjualbelikan. Asumsi yang demikian bertitik tolak dari pandangan bahwa person secara total dan esensial identik dengan tubuhnya. Akan tetapi ada anggapan bahwa tubuh itu juga merupakan materi, kuburan dan penjara bagi sesuatu yang tidak dapat mati. Tetapi dalam pandangan modern, tubuh adalah prinsip material dari individuasi dan dilihat dalam kerangka fungsi instrumentalnya. Manusia lantas tidak menjadi tubuh tetapi menjadi objek harta milik.
Pengertian Hegel terhadap person dan seluruh penjelasannya rupanya merupakan sontoh paham modern tetang pribadi itu sendiri. Ia misalnya mendefinisikan kepribadian sebagai kapasitas untuk membuat suatu abstraksi dari semua penentuan dan kondisi-kondisi yang mempengaruhi pemikiran sebagaimana adanya yang terjadi pada kehendak. Tubuh dalam hal ini dilihat sebagai kondisi eksternal. Selanjutnya person dapat dan harus memiliki tubuhnya sendiri. Oleh karena itu direduksikan ke dalam eksistensi fenomenal. Tubuh lalu menjadi milik person, adalah cermin dan instrument aktivitas kebebasannya. Person kemudian menjadi tuan bagi dirinya.
Pada level roh subjektif, adanya person didahului oleh jiwa, oleh kesadaran atau kesadaran diri, dan pada akhirnya adalah moment kehendak bebas. Pada tingkat roh objektif, relasi antara person dengan tubuhyna diletakkkan dalam dialektika kemajuan yang menunjukkan bagaimana person dalam aktivitasnya secara konstant dan perlu dibatasi pada bidang alamiah sebagaimana itu berbeda dari bentuk-bentuk hidup sosial dan politis. Dalam bidang hukum tubuh itu perlu secara “artifisial” dikaitkan dengan suatu tindakan partikular kehendak yang ditempatkan dalam konteks pengakuan hukum. Pada level ini, person tidak dapat mengabstrasikan dari level alamiah dan presuposisi fisik. Tubuh mesti diakui sebagai sesuatu yang konstitutif bagi kepribadian yang bebas. Konsep person merupakan tempat lahir bagi subjektivitas, kebebasan abstrak dan dilihat sebagai kapasitas tertinggi dari semua abstraksi semua isi bahkan dari apa yang adalah milik kita. Hegel lantas berpendapat bahwa idea kebebasan perlu direalisasi ke dalam dunia objektif. Dalam hal ini tubuh kemudian menjadi yang paling pertama dan segera merupakan alasan subjektif tentang dunia objektif. Pada sisi lain tubuh adalah mediasi dan merupakan unsur pembangun dari kondisi intersubjektif. Dengan demikian tubuh person dilihat sebagai “being-for-other” dari kepribadian. Hal ini mewakili aneka proposisi “pengakuan”.
Daram Philosophy of Right tubuh diletakkan dalam kaitannya dengan kepribadian. Meskipun secara logis person mengatasi tubuh, hal tersebut hanyalah suatu identifikasi antara person dan tubuh yang membenarkan dialektika dari roh objektif. Pada tataran ini, tubuh diletakkan sejajar dengan person dan karena itu menjaminnya pada suatu tingkat status ontologis yang mengatasi semua hal alamiah. Yang alamiah sebagaimana penentuan-penentuan alamiah tubuh adalah apa yang meletakkan kemungkinan membatasi tindakan bebas person sebagai subjek “hukum” dan meletakkan dasar relasi intersubjektif antara person-person. Hasil gerakan logis ini adalah perwakilan dari tubuh sebagai objek kepemilikan atau menjadi person dan kemudia adalah subjek hukum itu sendiri. Berangkat dari sinilah, Hegel kemudian menjelaskan transisi dari kepemilikan kepada kontrak. Klaim bahwa person itu memiliki tubuh dalam harta milik mengantar seseorang kepada pengakuan bahwa tubuh adalah subjek hukum. Hal ini secara mutual berada dalam konteks kontrak. Sebab di dalam kontrak inilah masing-masing person saling menghargai.
Konsep filsafat hukum juga berkaitan dengan person. Problem dari filsafat hukum berhubungan dengan tema subjektifitas yang dapat berkembang dalam bentuk-bentuk berbeda dan figur-figur aktualitas roh. Di sini pengertian kehendak menjadi penting. Hegel, dalam uraian awalnya pada konsep roh subjektif menerangkan momen terakhir dari roh subjektif adalah kehendak bebas. Akan tetapi pada momen ini, kehendak tidak sungguh-sungguh bebas di dalam subjek yang terbatas karena kebebasa adalh aktualisasi diri dan perwujudan diri dari konsep dalam element eksistensi. Oleh karena itu, agar berada dalam kebebasan objetifnya, kehendak mesti mengambil bentuk sukesifnya. Moment pertama adalah person. Hegel menerangkan pula pemikirnanya untuk mengidetifikasi person itu. ada dua metode yang ditawarkannya. Pertama, karena filsafat pengetahuan tentang hukum memiliki idea tetang hukum sebagai objek, metode tersebut harus mengikuti perkembangan momen dari penentuan “konsep hukum” dan aktualisasinya. Kedua, penjelasan filsafat mesti menghadirkan figur konkret yang setiap waktu berkoresponden dengan moment-moment berbeda dari konsep yang adalah universalitas, partikularitas, dan individualitas. Hegel mengidentifikasi permulaan pengetahuan hukum dengan tugas pengembangan struktur-struktur kehendak menurut tiga moment konsep. Sekarang konsep kehendak adalah kebebasan. Kebebasan adalah substansi kehendak. Kehendak ditentukan oleh kebebasan utuk menemukan suatu Dasein dalam mana ia mewujudkan dirinya. Kehendak bebas ini merupakan bentuk pertama dari kebebasan yang mengaktualkan dirinya. Dalam konteks Abstract Right, kehendak bebas adalah moment pertama dari konsep-konsep momen individualitasnya. Dalam partikularitasnya, kehendak diperhitungkan ke depan dengan segera memberi dunia pertama dari kebebasan yang aktual di mana ia menyatakan tujuan dan maksud-maksudnya. Person merupakan idea yang secara total menentukan kondisi-kondisi empiris.
Langkah pertama untuk mengenal bahwa dalam bidang hukum kehendak bebas memiliki eksistensi dalam figus yuridis person. Langkah lainnga adalah dalam dan melalui diriyna sebagai milik dirinya. Relasi ini justru adalah dasar bagi konsep kepemilikan. Konsep person oleh Hegel merupakan perintah hukum (par 36) ini dikatakan Hegel dalam dua klausa yakni pertama jadilah pribadimu sendiri. Hal ini diarahkan kepada masing-masing individu yang bebas. Kedua adalah hormatilah yang lain sebagai person. Yang dimaksudkan Hegel untuk setiap pribadi sebagai person. Yang dimaksud oleh Hegel di sini adalah pentingnya relasi dengan person lain dengan cara “being-for-other” yakni melalui dirinya dan objek kepemilikan. Di sini Hegel mengutip konsep Kant tentang kategori imperatif dalam bidang hukum. Agar dapat dimengerti dua bidang perintah itu, person “harus” menyediakan bagi dirinya suatu “bagian eksternal” dari kebebasannya. Ini akan mendapat bentuknya dalam dasein. Karena inisial keabstrakkannya, dasein dikualifikasikan sebagai “eksternal” untuk kehendak bebas dan oleh karena itu, dapat dipisahkan dan berbeda darinya (par.41). “bidang kebebasan” yang adalah hasil eksteriorisasinya adalah penentuan “kepemilikan”. Person bagi Hegel adalah pemilik harta mulik itu. Kepemiliknan, bagi Hegel, lantas merupakan suatu yang esensial bagi status yuridis dari person; bahwa seorang person tidak memiliki harta milik adalah suatu yang contradictio in adjecto. Eksterioritas itu tmapak dalam barang-barang atau hal-hal yang menjadi kekayaan person agar ia menjadi benar-benar bebas sebagai person. Eksistensi ini kemudian dapat menjadi “yang lain” yang tunggal. “Lain” di sini menjadi mungkin karena pemisahan dari dirinya. Dalam hal ini, Hegel memaksudkan suatu alienasi pribadi seseorang atau person terhadap harta miliknya.
eBook Berkualitas di Seluruh Dunia, Murah bahkan Gratiss....Bisa dijual Kembali!!!
berwarna pink di atas ini.
Ini contoh recehan dollarnya...
AAderiau Balance History
Date Amount Note Balance After
Date: 2009-10-30 11:08:27 - $0.93 2009-10-30 Pay to paypal: dewa.gratia@gmail.com $0.00
Hello Rakadewa,
chen zirong just sent you money with PayPal.
Payment details
Amount: $10,93 USD
Transaction Date: Oct 30, 2009
Subject: paid-to-promote.net 2009-10-30
Philosophy is a game with objectives and no rules.
Mathematics is a game with rules and no objectives.
Theology is a game whose object is to bring rules into the subjective.
Thursday, December 17, 2009
Modern Philosophy | Konsep dan Relasi antara Kebebasan, Person dan Kepemilikan Menurut Hegel (2)
Modern Philosophy | Konsep dan Relasi antara Kebebasan, Person dan Kepemilikan Menurut Hegel (1)
Pemikiran Hegel yang tertuang dalam karyanya Philosophy of Right merupakan pintu masuk ke dalam pemikirannya tentang filsafat politik. Di dalamnya Hegel membahas tema-tema pemikiran politiknya yang meliputi permasalahan tentang hukum, moralitas dan kesusilaan. Di dalam tema kesusilaan, ia membahas pula dialektika yang terjadi di dlaam keluarga, masyarakat dan negara. Berkaitan dengan ini, salah satu yang menjadi pokok pembicaraannya dalam hukum abstrak adalah konsepnya tentang hak milik atau kepemilikan. Bagaimana kepemilikan itu berkaitan dengan kehendak, kebebasan dan hukum yang merupakan persoalan yang tidak bisa lepas dari pemikirannya. Justifikasi kepemilikan ini ternyata juga berhubungan dengan konsep tentang person dan kepribadian. Tulisan berikut ini akan memaparkan justifikasi Hegel terhadap kepemilikan itu.
Kerangka utama sistem filsafat Hegel
Kerangka filsafat Hegel dikategorikan ke
dalam tiga bagian berikut ini. Pertama yakni filsafat logika, kedua yakni filsafat alam dan filsafat roh. Ketiganya merupakan momen-momen dalam keseluruhan proses perjalanan roh/ide/kehendak menuju pada kepenuhan dan kesadarannya yang absolut. Untuk mencapai pada kesadaran diri yang sepenuhnya, roh tersebut niscaya perlu mengejawantahkan dirinya secara dialektis dalam berbagai realitas material. Tema filsafat politik merupakan momen dalam tahap perkembangan filsafat roh, tepatnya dalam tahap perkembangan roh objektif. Perkembangan roh objetktif ini terjadi dalam tiga tahap pula yakni hukum abstrak, moralitas dan kesusilaan. Roh/ide/kehendak yang berkembang itu akan mencapai kepenuhannya dalam tahap kesusilaan, yang mana di dalam tahap ini, roh akan melalui tiga fase perkembangan yakni keluarga, masyarakat sipil dan negara. Dalam negara inilah rasionalitas dan kebebasan inidividu menjadi mungkin dan tercapai; dalam negara pula, kebebasan individu menyatu dengan totalitas kebebasan yang absolut.
Hal yang tidak terpisahkan dari penjelasan dan uraian Hegel tentang kepemilikan tidak terlepas dari konsepnya tentang kehendak bebas. Hampir seluruh filsafatnya bertitik tolak atau berdasarkan paham kebebasan ini. Dari sinilah ia merumuskan filsafatnya sebagai sejarah ynag berkembang ke arah kemerdekaan. Hal ini bagi Hegel tampak dalam tradisi Kristiani yang terjadi dalam komunitas jemaat perdana. Di dalam komunitas ini, paham subjektifitas itu sangat diperhatikan dan dijunjung tinggi. Manusia, dalam konsep ini dipandang sebagai persona yang bebas. Paham manusia yang bebas ini pula berkembang dan kemudian diteruskan dalam kenyataan sosial. Kenyataan tersebut bagi Hegel ditemukan dan tampak dalam revolusi Perancis yang dibawa oleh Napoleon Bonaparte.
Thursday, June 18, 2009
Filsafat Manusia: Teknologi Mendeterminasikan Manusia sebagai Penciptanya sendiri
TESIS POKOK FILSAFAT MANUSIA:
Proses teknologi menciptakan kebutuhan yang hanya dapat dipuaskan oleh teknologi. Teknologi mengubah masyarakat sehingga masyarakat tersebut harus menyesuaikan dirinya secara terbalik dengan perkembangan teknologi.
Di satu pihak teknologi membawa nilai-nilai manusia, di lain pihak teknologi menciptakan determinasi baru dalam kehidupan.
Pada konteks filsafat manusia, tesis ini hendak mengatakan :
Teknologi (modern) sebagai ciptaan manusia memiliki relasi tertentu dengan sang penciptanya (manusia), yaitu dapat semakin membantu, mempermudah, dan membangun kehidupan manusia atau dapat mengancam atau bahkan merusak manusia itu sendiri.
Penjelasan:
“Teknologi” tidak hanya berarti penerapan ilmu pengetahuan (tidak terpaku pada alat-alat) tetapi keseluruhan metode yang dicapai secara rasional dan memiliki efisiensi mutlak (dalam tahap perkembangan tertentu) dalam tiap kegiatan manusia. Perkembangan teknologi mengalami beberapa tahap: 1. tahap peralatan (berfungsi membantu organ-organ manusia), 2. tahap teknik energi (diciptakannya mesin sebagai sumber tenaga sebagai menggantikan kerja manusia), 3. tahap informasi (sebagai pengganti ingatan manusia untuk mengarahkan dan mengatur kerja mesin bagi manusia, juga informasi yang membantu mengorganisasikan hidup manusia).
Teknologi juga tidak lepas dari teknik dan struktur. Dalam hal teknik, teknologi mengandung alat, ketrampilan, serta pengetahuan. Dalam hal struktur meliputi ekonomi, sosial, dan budaya, yaitu asumsi-asumsi dasar tentang kenyatan dunia. Dengan demikian teknologi tidaklah netral secara politis, tidak berada dalam vakum, tetapi dalam struktur ekonomi, sosial, budaya.
Teknologi (modern) bersifat artifisial (non alamiah), otomatis (dengan sendirinya dan teknis matematis), kemajuan (pertambahan aplikasi, daya guna), monistis (teknik adalah “metode kerja” dengan berdasarkan hubungan bersama dari berbagai teknik lingkungan yang bermacam-macam, seperti industri dan keuangan, olahraga, kesehatan, dan pendidikan, dll), universal (kesatuan terjadi baik dalam lingkungan geografis maupun lingkungan perbedaan kualitatif tindakan-tindakan manusia, mis: teknologi komunikasi, otomotif, teknologi pertanian mengarungi alam, mensiasati iklim, maupun generasi). Kemudian teknologi juga memiliki otonominya sendiri, disebut otonomi teknik. Arti istilah ini adalah teknologi dapat berdiri, berkembang, dan memiliki kandungan potensi untuk mempengaruhi pengguna masuk ke dalam mekanisme yang ada padanya hingga menciptakan bentuk-bentuk ketentuan baru (mis. teknik transportasi menciptakan iklim jadual bagi pemakai jasanya).
Maka, oleh potensi otonomi yang mampu mengkondisikan penggunanya, proses (perkembangan) teknologi menciptakan kebutuhan manusia sejauh radius pengkondisian teknologi yang bersangkutan. Begitu teknologi diciptakan, maka suatu struktur permintaan yang berangkat akan terbentuk: dibutuhkan suku cadang, pengetahuan dan ketrampilan, serta teknologi baru. Artinya, kebutuhan-kebutuhan yang muncul akibat efek teknologi berjalan dalam koridor relasi manusia dengan teknologi tersebut. Misal:
- 1. untuk menjawab tantangan global maka sistem pengajaran disusun, standar pendidikan ditingkatkan, kaderisasi tenaga pengajar.
- 2. ketika transjakarta muncul lantas diperlukan tenaga supir, keamanan, sirkulasi karcis, hingga penambahan koridor baru. Dengan demikian teknologi menciptakan ketergantungan berefek. Aplikasi yang muncul kemudian tidak bisa lepas dari pengaruh sebelumnya dan masing-masing berdiri dalam kesatuan sistem.
Misalnya,
- Siaran bola langsung dari Inggris di Indoensia membuat orang mesti bangun dini hari, efeknya adalah kinerja kerja keesokan harinya (keadaan jelas berbeda dengan lingkungan geografis yang semakin dekat dengan tempat berlangsungnya pertandingan).
- Polusi udara dari kendaraan bermotor atau asap rokok lambat laun memunculkan undang-undang anti polusi (sebagai teknik kontrol atasnya) sehingga pemilik kendaraan bermotor: 1. membeli kendaraan yang ramah lingkungan, 2. menguji emisi gas kendaraannya dan semakin perhatian dengan kesehatan kendaraannya agar sesuai dengan aturan yang berlaku, atau 3. mungkin semakin was-was dengan petugas tramtib (sebagai perwujudan teknik pengorganisasian polusi) ketika memilih tempat yang tepat untuk merokok.
- Teknologi komputer dan teknik informasi yang masuk dalam lingkungan industri dan perkantoran membuat orang giat untuk menyesuaikan kemampuannya secara formal/informal guna masuk dalam persaingan lowongan kerja dan memperoleh penghasilan.
- Teknologi Barat membawa nilai-nilai manusiawi atau bahkan mengganggunya. Rasionalitas dalam teknologi yang berarti melihat pengalaman sebagai masalah yang dapat dianalisis, dan akibat-akibatnya dapat diukur dan dimanipulasi. Hal ini kontras terhadap cara berpikir Timur yang menekankn makna, mitos, dan simbol.
- Teknologi Barat juga menekankan efisiensi, produktivitas dalam perhitungan seksama input dan output. Sedangkan efisiensi bagi Timur diukur menurut estetik, rekreasional, persaudaraan.
- Teknologi Barat menekankan problem-solving dalam pendekatan terhadap alam dan peristiwa. Sedangkan Timur mendekatinya secara kontemplatif dan keselarasan alam. Dapat dilihat bahwa Barat menekankan penguasan terhadap alam sedang Timur memberi porsi kepada harmonitas hidup dengan alam.
Tuesday, May 5, 2009
Political Philosophy of Machiavelli: Human Being and Desire to Commands
Epoch Renaissance
New Growth of sciences, arts, artistic, and social life that is human being starts to think in new way, including also about itself. Humans being as Faber Mundi (one who done in world). Power shall no longer on the basis of religion criterion or moralities but on the basis of political criterion.
Modern characteristic of idea of Niccole Machiavelli:
Machiavelli does not start to philosophize by raising definition. But analyzing former human being with nature of and natural tendency of then leave to go to power analysis. And stability feather in one's cap of political community one nation, Italian nation
He tell “what reality”, none “what deservedly” there is. Natural human being is human being having passion conquer. That human being generally has the nature of negativity. There is stress and intelligence.
Machiavelli major mainstream and action “instinct” human being:
- Action: Human being having passion conquer, does not know thank, confuse, errant, its profit will own, fear to face danger.
- Mainstream: proud Human being itself easy cheats his self, difficult to so that secede from this disease. There is 2 form of government: And Monarchy republic (The Prince, chapter 1, page. 53). From this 2 form of government, best State Monarchy. State requires power to reach its target. And unity feather in one's cap of state determined by stable power and power which is stable to be determined by clever power.
Clever power: Soybean cake use the way of animal and way of human being (The Prince, chapter 18, matter. 99)
May not fear little face accusation do badness, if that badness requires to be conducted by for the sake of safety of state (The Prince, chapter 15, page, 92)
Politics and Moralities Two (2) different Region:
Experience indicate that all a success power conduct big things is them assuming easy to the promise – their promise, they know how to play tricks on people with ingenuity of it, and which finally win to them holding principal firmness of sincerity (The Prince, bab18,page. 99)
- • Autonomous politics: Agreeing all way of to protect power. All way of (deed and action) pettifogging, cruel, criminal, immoral can be agreed as far as that conducted by for the sake of its state.
- Moralities: Appliance to support power. Both for power to have the nature of goodness (like to forgive, liberally is, downright, human being, candid, pious) but at any times if required (in a state of emergency), he also have to earn to do which on the contrary (The Prince, chapter 18, page. 99 )
Limitation of Machiavelli
There is limitation conception about human being that is seeing human being from its weakness. Weakness of this human being is later completed by Thomas Hobbes become Theory Agreements State. Overruling values arrange ethic, religion, and society because fetching up all standing at practical importance, that is giving hold to power.
Conclusion:
Idea of political Philosophy of Machiavelli very controversy because freeing political philosophy from old world shackle (moralities role in politics). By freeing politics from moralities hence political to by itself become an autonomous value system, self-supporting and free from other value system. Idea of political Philosophy of Machiavelli is immoral and non immoral. Importance of State becomes size measure and highest value to take and determine policy in power.
Thursday, December 4, 2008
The Modern philosophy
Modern philosophy is philosophy done in Europe and North America between the 17th and early 20th centuries. It is not a specific doctrine or school, (and so should not be confused with Modernism) although there are certain assumptions common to much of it, which helps to distinguish it from earlier philosophy.
The 17th and early 20th centuries roughly mark the beginning and the end of modern philosophy. How much if any of the Renaissance it should include is a matter for dispute; likewise modernity may or may not have ended in the twentieth century and been replaced by post-modernity. How one decides these questions will determine the scope of one's use of "modern philosophy". The convention, however, is to refer to philosophy of the Renaissance prior to Rene Descartes as "Early Modern Philosophy" (leaving open whether that puts it just inside or just outside the boundary) and to refer to twentieth-century philosophy, or sometimes just philosophy since Wittgenstein, as "Contemporary Philosophy" (again, leaving open whether or not it is still modern). This article will focus on the history of philosophy beginning from Descartes through the early twentieth century ending in Ludwig Wittgenstein.
Modern Philosophy's Beginings
Things began to get better: The economy improved; There was a return to building, cathedrals, universities, cities...; a return to “luxuries” -- paper, plays, music...; a return to invention -- the compass, printing...; a return to exploration -- Africa, the New World, the Pacific.... It was the renaissance, which we date (roughly!) from 1400 to 1600 or so. They were vigorous times, interesting times, dangerous times!The aristocracy had won the day over the fledgling monarchies and even the church’s heavy hand, at least for now. So there were just tons of these upper-crust types, often with lots of money, totally in love with the idea of themselves. Religious and other thinkers were freed, to one extent or another, from the powerful central authority of the church to create their own, very reasonable or totally outlandish, religious philosophies. And merchants found that money can buy almost anything, including the traditional respect that the aristocracy received. In fact, aristocratic title and merchant wealth were a perfect combination for a good marriage! These aristocrats and merchants believed in the "perfectibility" of mankind: We could become better human beings! Most importantly, we could become more powerful, richer -- more aristocratic, if you will. Much attention was paid to behaving like a gentleman or a lady, as reflected, for example, in Baldesar Castiglione’s guide to proper conduct, The Book of the Courtier. They were practical, interested in real events and real people in the real world. Individualistic and competitive (and very “dog eat dog”), they liked their politics, and they like to play rough. But, they were also anti-intellectual, even cocky in their ignorance. They tended to think of scholars as dry, impractical types, who might be able to forecast eclipses, but probably couldn’t tie their own shoes, much less make money or run estates! And they were superstitious, spiritualistic, fascinated by astrology, ancient Egypt, the Kabbalah, alchemy, magic -- a Renaissance version of our “New Age” movement. Two events in particular stand out as representative of the renaissance: The first was printing. Johann Gutenberg (c 1400-1467) of Mainz invented the printing press and movable type, and printed the Gutenberg Bible in 1455. The second was the discovery of the New World, which meant lots of gold and silver and a stoked-up international economy, as well as an outlet for those discontented with life in Europe (“Lebensraum” -- room to live, as the Germans call it). This, of course, is usually credited to Christopher Columbus (1451-1506).
We will give you Free, some comprehensive theses all about philosophy.
(Anda ingin mendapatkan tesis-tesis komprehensif tentang filsafat lengkap dengan penjelasannya. Gratis! silahkan kirim email anda di themodernphilosophy@gmail.com !)
